Kunjungan tersebut diikuti mahasiswa bersama dosen pendamping. Selain memperoleh pemaparan mengenai tata kelola perusahaan, peserta diajak melihat secara langsung aktivitas operasional terminal peti kemas yang menjadi salah satu simpul logistik di kawasan barat Indonesia.
Dalam sesi pemaparan, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai penerapan sistem manajemen yang menjadi acuan perusahaan dalam menjalankan operasional sehari-hari.
Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan organisasi, kepemimpinan, identifikasi dan mitigasi risiko, evaluasi kinerja, hingga mekanisme perbaikan berkelanjutan untuk menjaga kualitas layanan.
Pembelajaran di lapangan tersebut diharapkan dapat melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diperoleh di bangku kuliah.
Melalui kunjungan langsung ke terminal peti kemas, peserta dapat melihat bagaimana standar operasional diterapkan dalam aktivitas pelayanan kapal, bongkar muat peti kemas, serta pengelolaan arus barang yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
PMT telah mengintegrasikan sistem manajemen mutu ke dalam sejumlah proses bisnis utama perusahaan.
Penerapan standar tersebut dilakukan pada layanan bongkar muat peti kemas, kegiatan receiving dan delivery, hingga pelayanan yang berkaitan dengan pemeriksaan kepabeanan dan karantina.
Penerapan standar tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga konsistensi layanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Direktur Operasi dan Teknik PMT, Wahyudi, mengatakan bahwa pengelolaan pelabuhan saat ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, tetapi juga membutuhkan dukungan sistem yang mampu memastikan setiap proses berjalan sesuai standar.
"Standar mutu menjadi pedoman dalam setiap tahapan operasional. Namun, penerapannya akan lebih efektif apabila didukung pemanfaatan teknologi digital yang memungkinkan proses kerja dipantau secara real time, sehingga potensi kendala dapat diidentifikasi lebih cepat dan pelayanan kepada pengguna jasa tetap terjaga," ujar Wahyudi.
Menurut dia, digitalisasi yang diterapkan perusahaan tidak hanya berfungsi meningkatkan efisiensi proses kerja, tetapi juga memperkuat akurasi data dan koordinasi antarbagian.
Dengan demikian, proses pelayanan dapat berlangsung lebih cepat, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa pelabuhan.Ia menambahkan, pengenalan praktik operasional kepada mahasiswa menjadi salah satu bentuk kontribusi dunia usaha dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor maritim.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai tantangan maupun kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan industri kepelabuhanan.
Bagi mahasiswa, kunjungan industri menjadi kesempatan untuk memahami keterkaitan antara konsep manajemen mutu dengan praktik operasional di lapangan.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai penerapan standar internasional dalam pengelolaan pelabuhan sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan transformasi digital di sektor logistik nasional.
Terminal Kuala Tanjung sendiri merupakan salah satu simpul logistik strategis yang terus dikembangkan untuk mendukung konektivitas distribusi barang di Indonesia.
Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan arus logistik, penerapan sistem manajemen mutu dan digitalisasi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing layanan pelabuhan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
(Titin)
